Monday, July 23, 2007

pelajaran dari ning

wajah kuyu itu masih juga belum berani tengadah menatap lawan bicaranya. mulutnya seperti terkunci tidak berani memulai pembicaraan. tubuh kurus dan penuh luka di tangan itu tetap membisu bahkan hingga sepuluh menit diawal pembicaraan kita. pada awalnya rona muka cantik namun berbalut masalah itu tidak begitu mengusik ku. ning-namanya memperkenalkan diri, saat ku tanya.
sepuluh menit sudah berlalu, puas ita mengutarakan kesedihan dan dengkinya pada majikan selama itu pula ning hanya diam. sesekali saja ia mencuri pandang pada teman yang diantarkannya itu. selebihnya diam dan tertunduk adalah pilihannya.
keheningan yang ning buat di ruangan saya, membuat tak kuasa pula membuat aku bertanya, keluarga sehat-sehat mbak ning ? Alhamdullilah sehat pak jawabnya. setelah itu kembali diam yang menjadi pilihannya. lazimnya, siapa saja yang masuk ruangan kerja ini selalu saja bercerita tentang malangnya nasib mereka. bencinya ia akan seluruh kemalangan yang menimpanya.
suami yang tak tahu diuntung, nasib sial yang selalu menggelayut, makian hingga siksaan majikan diiringi oleh tetes air mata adalah hal yang lumrah. tapi tidak dengan ning ini. saya anak tertua dari 3 bersaudara. jawabnya singkat pada pertanyaan yang kembali ku ajukan. Pertanyaan khas orang-orang putus asa tak terdengar dari bibirnya. tanpa raut muka yang kecewa berlebihan ia ceritakan rentetan perjalanan hidup yang ia dan keluarganya alami.
terlahir sebagai wanita di dalam keluarga petani miskin di desa sudah merupakan perjuangan tersendiri di kampung, terangnya memberi gambaran. hari-hari dilalui dengan kerja dan kerja. sekolah menjadi barang mahal yang bersama-sama dengan kesehatan seperti tidak layak bagi ning dan adik-adiknya.
untuk memperbaiki nasib dan menyekolahkan adik-adik lah alasan ning meninggalkan kampung. hutang rentenir pun akhirnya membuat sepetak tanah warisan kini hilang sudah. untuk ongkos masuk ke PT terangnya. namun baru 5 bulan ia di Hong Kong, saya di interminit pak, terang ning sambil berusaha menguatkan diri.
Ning bertutur, bahwa hidup terasa makin sulit ketika bapaknya menjadi gila. Gila, kejarku ? iya pak ! tegasnya. bapak kena stress sebab sawah kami lima kali gagal panen. hutang bertumpuk-tumpuk padahal kami juga sudah tidak punya apa-apa, makan pun 2 hari sekali lanjutnya. Seketika itu pula, seluruh biduk keluarga menjadi tanggung jawabnya. saya putuskan berhenti sekolah, kerja serabutan ia lakukan dan akhirnya menikah menjadi pilihan. Agar tidak membebankan orang tua, pesan emak saat ijab kabul.
ning, mau ? tanya ku. Saya juga tidak ada pilihan lain pak, bapak dan emak sakit, adik masih kecil-kecil tambahnya. kini mulai terbaca beban berat itu. sudah demikian hebat cobaan yang harus kau tempuh ning, batin ku dalam hati.
lalu suami dimana sekarang ? tanyaku mencari tahu ? suami sama istri mudanya, jawabnya acuh. hah...ujarku, jadi ning sudah pisah ? iya pak jawabnya. Ning putuskan cerai saat berumur 19 tahun, kedua anak ikut bersama saya. waktu itu, takbiran. mas datang kerumah naik motor goncengan sama wanita. Waktu saya bukakan pintu, wanita itu kaget sebab kita sama-sama hamil, bedanya dia 6 bulan saya 9 bulan, jadi saat umur kehamilan saya 3 bulan ternyata mas nandur ditempat lain. jelasnya dengan suara agak parau. usai lebaran saya putuskan cerai. air mata mulai terlihat menetes di ujung matanya.
Ning sedih ? Ning marah pada Allah ? tanyaku mulai berdakwah. semenit tidak ada jawaban, lima menit masih tangis yang terdengar. Akhirnya mau juga ia melanjutkan, Ning kangen anak-anak. apa sudah makan mereka ya ? ning takut tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi mereka. Ning tidak pernah marah sama Allah koq pak. tegasnya. Ning yakin, Gusti Allah Mboten Sare, Gusti Pangeran Mirsani lan gadah rencono sing paling apik kanggo hambane.
tak terasa, kalimat terakhir sungguh menggetarkan jiwa ini. Ning yang sederhana, gadis belia tamat 3 smp. Ning yang ibu dua anak dan kini di interminite, Ning yang mungil namun berhati baja, mengingatkan kita bahwa seburuk apa pun skenario hidup ini, kita punya Sutradara yang Maha Semuanya.
Allah Mboten Sare....Allah Mirsani Lan Gadah Rencono Sing Palling Apik Kanggo hambaNe. pesan ning pada kita. lalu bila Allah pasti melihat, mengapa juga kita masih melakukan tindakan tercela ? entah mengapa, tapi yang pasti Ning lebih baik dari saya, batinku.
Ning ingat bapak di rumah, kata-kata itu terucap ketika ia ku antarkan sampai pintu kantor. Apa ning salah pak, kalo bapak kami pasung ? memecah sunyi. terperanjat saya mendengar pertanyaan tersebut. semenit, tak ada ide, jawaban apa yang akan terucap ? tak ada biaya ujarnya sambil mencari sendal jepitnya diantara sepatu yang sudah berserakan, belum sempat ku menjawab pertanyaannya, ia pamit pulang ke shelter dan tanpa menanti jawaban ia ucapkan, Wassalamu'alaikum pak ogie.
Sejurus kemudian, ning sudah menghilang. hanya harap yang seketika itu terbersit, doakan saya ya ning ... ... ....

panggil aku mila

7 tahun sudah ia lewatkan diluar negeri. tidak ada rumah, perhiasan apalagi deposito bunga-berbunga. 2 kali orang kesayangannya masuk rumah sakit dan selembar ijazah D3 adalah hadiahnya selama ini.
jelas masih ia ingat betapa beratnya bekerja di Indonesia. Lampung, sebuah pulau akulturasi budaya tempatnya lahir dan besar ternyata tidak cukup mampu menahan laju semangat suksesnya. waktu disuruh korupsi, akhirnya saya putuskan untuk benar-benar berhenti dari kantor ini, jelasnya. lagian saya niat kerja itu buat bisa kuliah lagi, kalo uang saya dapat dengan tidak halal, apa nanti sekolah saya berkah ? gugatnya.
piagam ijazah siswa teladan itu sempat di lihatnya kembali, bukan sekedarnya saja, tapi ia benar-benar pertimbangkan pilihan hidupnya. sebab ia sadar, ini akan merubah semuanya. Pembantu Rumah Tangga, adalah pekerjaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. sampai akhirnya keputusan berat itu ia ambil pula.
bintang kelas dan juara umum se-kabupaten itu meninggalkan semua kenangan manisnya menjadi pujaan, ia jual semuanya untuk menjadi housemaid. singapura menjadi tanah impiannya kini. modal bahasa yang tidak hanya faseh, tapi juga fluently membuat majikannya senang. dianggap keluarga saya saat disana, terangnya.
satu yang ia senang, disini bahasa inggris saya terasah, hitung-hitung kursus gratis, ujarnya seperti menutup kesedihan. bekerja sebagai housemaid, bukan tanpa hambatan. wanita cantik yang dulu jarang sekali ke dapur ini memang benar-benar berjuang. Dari anak emas menjadi anak dapur. Dari bintang kelas menjadi sasaran makian, dari gadis belia menjadi pengasuh bayi, dari pusat perhatian jadi warga kelas tiga.
malu ia tepis, sedih ia hiraukan, kesal ia pendam. makian membuat mila yang dulu manja menjadi wanita tangguh yang membanggakan. disela paham akan nyamannya berkata-kata indah, beratnya pekerjaan membuat ia sadar akan hebatnya ucapan terima kasih.
kini, ia terus bermimpi, tapi seperti sendiri. 3 tahun ia lewatkan di hong kong, kota pelabuhan nan gemerlap ini menjadi semacam pelita baginya. panggil saya mila tuturnya suatu ketika. wanita dengan segudang prestasi ini pun merelakan hari, minggu, bulannya berganti hanya dengan kursus dan sekolah, tujuannya mantap, canada. saya ingin menjadi tenaga perawat disana.
mila, nampaknya tidak pernah akan berhenti. kemiskinan hanya bisa di tebas dengan ilmu dan pendidikan, itulah isyarat yang jelas ia sampaikan. walau terjal jalan itu, harus ditempuh. tak ada waktu untuk menyesali nasib, tidak perlu juga berkeluh kesah, manusia hidup dengan garis tangannya sendiri dan dengan itu mereka harus menciptakan sejarahnya sendiri-sendiri, gugahnya penuh galau.
lalu dimanakah peran kita, sudahkah kita ciptakan sejarah kita, ini bukan ajakan. ini hanya gugatan untuk saya sendiri seorang, terima kasih mila

untuk bu harti

minggu ini menjadi hari-hari yang berat terasa. entah mengapa ada sesak yang muncul tiba-tiba ketika ucapan perpisahan itu terdengar. saya mohon maaf atas semua kesalahan yang teah saya perbuat, saya harap mas ogie dan mbak ulfa dapat memaafkan serta mendoakan saya agar semua lancar dalam kepulangan saya ini, ujar faizah pelan namun pasti dan tegas.
ya. hari ini sunarti, kemarin gaida, kemudian faizah, bulan lalu nurdjanah, disusul sri purwanti, sebelumnya sriyati yang lalu suhartini sadam, dahulu sri nurrochamah ...... daftar ini akan tambah panjang bila dituliskan nama-nama anak-anak shelter yang hampir setiap minggu pulang.
ada sesak namun anehnya melegakan, ada takut tapi sejatinya membahagiakan ketika pesan perpisahan itu terucap dari para sahabat yang sudah sejak lama bersama bahu membahu bersama saling mengisi dan watawa showbil haq watawa showbil shobr. ah, mas terlalu sentimentil, ujar istriku berulang kali bila kuterangkan perasaanku ini. ya mungkin saya terlalu sentimentil ....
tapi ditinggalkan oleh sahabat-sahabat aneh yang terlepas dari kumpulannya ini memang membuat orang aneh ini makin nyinyir ditinggal mereka pergi, yang pasti hilanglah sebagian kekuatan kumpulan orang aneh.
malam menjelang, subuh pun datang, tafakur pun berlalu. tapi memang aku orang aneh nan sentimentil, Allah kan pasti akan mengganti lalu kenapa mesti takut, toh mereka disana Insya Allah bahagia ditengah keluaraga ?
Ya Rabb, Engkau tahu hati kami berhimpun karena cintaMu, berkumpul dalam ikhlas niat berdakwah di jalanMu, saat ini saudara kami pulang, bantu dan lindungi dirinya, berikan kebahagiaan dan kemuliaan hidupnya disisiMu dan kuatkan mereka dengan orang-orang pilihanMu, perkuatlah, perkuatlah, perkuatlah mereka. Amiin

cermin ayah

Maafkan bapak ya nang,
Mengijinkan ibumu pergi,
Mencari nafkah dan pendaringan,
Membuat engkau haus kasih dan tak dapat ASI

Bukan tak mau bapak bekerja,
Tapi memang tak ada pekerjaan yang tersedia,
Sawah kita sudah tak lagi subur,
Karena tak ada lagi pupuk yang tertabur

Bapak juga sakit,
Melihat emak terhimpit
Bapak malu, takut pada Ilahi Robbi
Sebab tak bisa mencukupi

Doa dan tidak membuat emakmu malu yang bapak bisa,
Menjaga dan melindungimu yang bapak janjikan
Memegang amanah agar semua tak kecewa
Agar sakinah dan mawadah keluarga kita

Nang, mari duduk dekat bapak
Engkau lelaki, kelak harus berbakti
Menjadi lelaki yang kuat dan berbudi
Mencari rezeki, melindungi istri dan menjadi bapak

Nang, cukup sekali siklus menyedihkan ini terjadi
Jadilah lelaki sejati
Membuat dunia terasa berarti
Sebab engkau anak laki-laki

Nang, hormati dan cintai Ibumu
Sebab ia telah berjuang untukmu
Merendahkan diri untuk sekolahmu
Menelan pahit untuk kebahagianmu

Dengus marah mu, sudahi saja
Doakan saja agar ia tak salah jalanDan mari buat ia bangga

jadilah PELITA

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya.Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama sajabuat saya! Saya bisa pulang kok."Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu,biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawapelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabraksi buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalanbuat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si butabertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita inisupaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamutidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.. Menyadari situasiitu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidakmelihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidakapa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, sipenabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka punmelanjutkan perjalanan masing-masing.Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang butakita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun,"Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justrumau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara berbarengan merekabertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab,"Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantumenemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja iamenubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia punberlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikirandalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi sayabisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihatjalan mereka."Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankankebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan,melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin,keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah oranglain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinyasendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melaluiperistiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hatikarena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain.Ia juga belajar menjadi pemaaf.Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran,yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun merekabisa melihat.Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yangsebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Merekabisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta,sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita.Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihatpelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnyauntuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnyamemiliki pelita kebijaksanaan.Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakahnyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi dirikita sendiri dan sekitar kita.Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakandari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelitakebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpapenghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalangmembuahkan penciuman. Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalahkebijaksanaan.Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Sunday, July 22, 2007

Narsis

Denting dawai gitar terdengar jelas dan tegas. Iringan suara baritone dan soprano sekilas akan membawa malam yang sumpek di bis blok m-cikarang akan tinggal kenangan saja. Tempat duduk dekat jendela, suhu AC yang pas, tidak dingin dan tidak panas ditambah dengan lampu bis yang temaram sangat mendukung suasana café berjalan yang ehem. Check sound beberapa bait syair lagu yang dilakukan oleh dua orang vokalis semakin memantapkan suasana menuju satu arah ; nyaman dan mimpi indah.

Nampaknya bukan hanya saya yang menanti dengan penuh harap di mulainya lagu pertama namun penumpang lain. Banyak penumpang yang sudah mulai merogoh recahan di kantong celana dan di pindahkan ke kantong baju agar mudah di keluarkan sambil tidak lupa mengatur posisi duduknya senyaman mungkin.

Menit pertama, tidak ada lagu yang dinyanyikan. Berulang-ulang gitar itu di petik namun bukan bait lagu yang meluncur dari bibir vokalis, hanya gurauan tidak jelas arah yang terdengar. Yang pasti, mereka tidak mengajak kami untuk interaktif memesan lagu. Mereka hanya asyik berdua entah membicarakan apa.

7 menit berlalu, salam pembuka sudah diberikan. Namun tetap saja mereka belum memulai aksi, bahkan bisik-bisik dan senda gurau diantara mereka makin keras. Serunya diskusi bahkan membuat mereka kehilangan kesadaran. Tubuh yang makin sulit di kontrol membuat penonton yang tadinya simpatik berubah kesal. Muda-mudi seniman jalanan itu telah terbang ke awan membawa angannya sendiri.

Ketika dimulainya lagu pertama, suasana sudah tidak memihak kepada keduanya. Penonton sudah bosan, tidak peduli dan bahkan sebagian telah tertidur. Lingkungan yang sudah negative ternyata belum pula disadari oleh mereka. Masih saja bercanda yang merak pilih dibanding bernyanyi. Ketidaktepatan dalam memilih lagu yang sesuai karakter suara makin memperlengkap sajian nada sumbang disetiap lagu yang disajikan. Bukannya memperbaiki kelemahan ini mereka malah dengan tidak professional menyalahkan kondisi.

Akhirnya, 5 lagu tersaji. Tidak ada yang memuaskan. Hasilnya, bisa ditebak. Bukan saja uang yang tekumpul sedikit tapi tanggapan dingin penonton adalah tanda bahwa mereka kecewa. Penonton tidak bersimpati.

Kondisi seperti ini sering sekali menghampiri kita, khususnya saya. Kecenderungan terlalu percaya diri yang membuat ini terjadi. Narsis itu ungkapan anak muda jaman sekarang. Dari segi bahasa, narsis dapat diartikan sebagai keadaan dimana kita sering sangat mengagungkan diri sendiri. Sibuk dalam dunia kecil kita-bahasa saya mengartian.

Bukan-Bukan penyakit ketidak pedulian yang menjangkit, tapi memang semua lingkungan itu tidak berpengaruh bagi kita. Semua terjadi karena kemapaman (anggapan saya). Keadaan ini menghasilkan keputusan yang pasti tidak tepat. Sebab parameter penunjangnya tidak maksimal.
Kita lupa bahwa kita setiap saat berinteraksi dengan orang-orang. Kita punya hak tapi juga punya kewajiban. Nah yang sukar, memang mengakui hak orang lain. Setidaknya itu yang saya rasakan. Setidaknya itu yang terpetik di Bus Patas Mayasari Bakti 121 ini.

Ya….Allah, jadikanlah setiap kehendakMu yang aku lakukan
Ya….Rabb, jadikanlah awal hari ku dan seluruh kaum muslim adalah kebaikan
Ya….Rahman, jadikanlah tengah hari ku dan seluruh kaum muslim adalah kemudahan
Ya….Rahim, jadikanlah akhir hari ku dan seluruh kaum muslim adalah kebahagiaan
Ya….Aziz, jadikanlah keluarga, istri dan anak-anak kami cahaya surga kami
Ya….Allah, matikanlah kami dalam khusnul khotimah….Amiin.