7 tahun sudah ia lewatkan diluar negeri. tidak ada rumah, perhiasan apalagi deposito bunga-berbunga. 2 kali orang kesayangannya masuk rumah sakit dan selembar ijazah D3 adalah hadiahnya selama ini.
jelas masih ia ingat betapa beratnya bekerja di Indonesia. Lampung, sebuah pulau akulturasi budaya tempatnya lahir dan besar ternyata tidak cukup mampu menahan laju semangat suksesnya. waktu disuruh korupsi, akhirnya saya putuskan untuk benar-benar berhenti dari kantor ini, jelasnya. lagian saya niat kerja itu buat bisa kuliah lagi, kalo uang saya dapat dengan tidak halal, apa nanti sekolah saya berkah ? gugatnya.
piagam ijazah siswa teladan itu sempat di lihatnya kembali, bukan sekedarnya saja, tapi ia benar-benar pertimbangkan pilihan hidupnya. sebab ia sadar, ini akan merubah semuanya. Pembantu Rumah Tangga, adalah pekerjaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. sampai akhirnya keputusan berat itu ia ambil pula.
bintang kelas dan juara umum se-kabupaten itu meninggalkan semua kenangan manisnya menjadi pujaan, ia jual semuanya untuk menjadi housemaid. singapura menjadi tanah impiannya kini. modal bahasa yang tidak hanya faseh, tapi juga fluently membuat majikannya senang. dianggap keluarga saya saat disana, terangnya.
satu yang ia senang, disini bahasa inggris saya terasah, hitung-hitung kursus gratis, ujarnya seperti menutup kesedihan. bekerja sebagai housemaid, bukan tanpa hambatan. wanita cantik yang dulu jarang sekali ke dapur ini memang benar-benar berjuang. Dari anak emas menjadi anak dapur. Dari bintang kelas menjadi sasaran makian, dari gadis belia menjadi pengasuh bayi, dari pusat perhatian jadi warga kelas tiga.
malu ia tepis, sedih ia hiraukan, kesal ia pendam. makian membuat mila yang dulu manja menjadi wanita tangguh yang membanggakan. disela paham akan nyamannya berkata-kata indah, beratnya pekerjaan membuat ia sadar akan hebatnya ucapan terima kasih.
kini, ia terus bermimpi, tapi seperti sendiri. 3 tahun ia lewatkan di hong kong, kota pelabuhan nan gemerlap ini menjadi semacam pelita baginya. panggil saya mila tuturnya suatu ketika. wanita dengan segudang prestasi ini pun merelakan hari, minggu, bulannya berganti hanya dengan kursus dan sekolah, tujuannya mantap, canada. saya ingin menjadi tenaga perawat disana.
mila, nampaknya tidak pernah akan berhenti. kemiskinan hanya bisa di tebas dengan ilmu dan pendidikan, itulah isyarat yang jelas ia sampaikan. walau terjal jalan itu, harus ditempuh. tak ada waktu untuk menyesali nasib, tidak perlu juga berkeluh kesah, manusia hidup dengan garis tangannya sendiri dan dengan itu mereka harus menciptakan sejarahnya sendiri-sendiri, gugahnya penuh galau.
lalu dimanakah peran kita, sudahkah kita ciptakan sejarah kita, ini bukan ajakan. ini hanya gugatan untuk saya sendiri seorang, terima kasih mila
Monday, July 23, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment