Wednesday, August 15, 2007

Sombong Tingkat Tinggi

Sombong. Sombong adalah sebuah mahluk yang maha dahsyat. Ia, Menurut para salafus sahalih, adalah pangkal dari segala dosa. Ketika sombong masuk kedalam diri seseorang, ia akan menyebabkan sebuah amal menjadi tidak ikhlas, ia menyebabkan tertolaknya amal sholeh. Karena, pada hakikatnya apalah yang dapat kita banggakan ?

Marilah sedikit kita renungi kisah, terusirnya Iblis dari surga. Ia tidak mau tunduk pada perintahNya, sebab sombong. Setan merasa kedudukannya lebih mulia dari Adam as (Al A’raaf : 12. Coba tengok, awal tragedi pembunuhan pertama di muka bumi, yang melibatkan putra-putra nabi Adam as, Qabil dan Habil. Qabil yang merasa bahwa dengan segala tingkat kedudukannya maka lebih berhak menikahi Labudah – adik kembarnya, akhirnya membunuh adiknya, Habil. Belum cukup, mari perhatikan, bagaimana Firaun berkata kepada nabi Musa as dan bani israil, “aku-lah tuhan-mu karena aku yang menentukan siapa yang masih bisa menghirup udara bebas esok hari ?”

Sombong, sudah menjelma bahkan disetiap relung-relung kehidupan. Dari anak kecil, abg, dewasa hingga orang tua. Yang terbaru, bagaimana kita lihat Amerika Serikat yang mengajukan, memilih dan menetapkan dirinya menjadi polisi dunia. Dengan slogan, “either you’re with us or with the terrorist” ? dengan statemen seenaknya itu, mereka lalu menetapkan poros setan. Dengan cepat menuduh islam sebagai teroris. Dengan mudah mengatakan bahwa negara lain adalah negara yang rasialis, tidak demokratis sehingga semuanya salah, sampai mengikuti apa yang kami katakan dan perbuat.

Kesombongan adalah penyakit yang luar biasa. Ia bisa sangat kentara terihat namun bisa ada yang sangat halus, sehingga terkadang kita-pun tidak terasa telah sombong. Kesombongan pertama, adalah sombong dalam hal materi. Sombong tingkat ini adalah sombong yang sangat banyak ditemukan. Sombong karena hal materi ini adalah sombong dengan derajat paling rendah.

Sombong tingkat dua adalah sombong dalam hal ilmu pengetahuan. Ketika kita mempunyai sebuah ilmu dapat mengajarkan sesuatu kepada yang lain terkadang terbersit sombong tingkat ini. Sombong tingkat tiga adalah dan tipe sombong tingkat tinggi. Sombong ini adalah sombong yang banyak dialami oleh para alim ulama. Sombong ketika, kita merasa lebih taat kepada Allah SWT, sombong ketika kita berhasil menjauhi laranganNya dan melaksanakan perintahNya.

Sombong nomer tiga ini adalah jenis yang sangat-sangat merugikan. Dalam sebuah hadits qudsiNya, Allah pernah berfirman. “Tak akan masuk syurga orang yang ada sombong dalam hatinya, walau hanya seberat biji zahra”. Pada hakikatnya, ‘sombong’ hanyalah milikNya. Sebab apalah artinya ketika kita memperoleh kekayan ? apakah memang dari hasil jerih payah kita ?? apakah ketika kita berilmu, itu memang hasil pencarian dan pemikiran kita ? apakah, ketika kita dapat melakuan semua amal-amal sholeh, semua itu adalah hasil kerja keras dan buah ketaatan kita ? bukankah, semua hal itu hanya karena Ia yang meng’amanahkan’ kepada kita. Ia lah yang berhak dan karena Ia lah yang Maha Menetapkan (QS. Al An’aam:83)

Modal

Pernah kah anda merasa kesal karena tertinggal bus yang sangat dinanti ? padahal anda hanya tertinggal 5 menit. Atau pernah kah anda ikut kelompok cerdas cermat namun anda kehilangan mahkota juara karena telat satu detik menekan bel ? Bila anda pernah mengalami hal-hal itu atau yang mirip dengan nya, tentu kita akan merasa bahwa waktu adalah sebuah modal yang luar biasa dan mahal harganya.

Allah SWT dengan sifat rahman-Nya memberikan modal kepada kita. Ada modal yang dibagikan secara merata ada juga yang tidak. Kekayaan, umur, kesehatan dan lain sebagainya diberikan kepada kita tidak sama. Hanya waktu-lah yang diberikan kepada kita secara merata. Semua sama 24 jam sehari, 1.440 menit, 86.400 detik.

Rasul SAW, Ust. Arifin Ilham, Fir’aun, saya dan anda semua sama 24 jam dalam sehari. Namun apakah waktu yang kita sama-sama lewati dalam 1 hari, 1 minggu, 1 bulan atau 1 tahun mempunyai arti dan bermanfaat bagi sesama ? itu yang menjadi perbedaan. Berkaitan dengan waktu, Allah SWT ber-firman dalam Al Qur’an nur Karim bahwa “Demi Masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran” (Al- Ashr : 1-3).

Menurut Imam Ibnu Qayyim dalam Mada’rij as-Salikin bahwa, “Waktu adalah sesuatu, yang engkau berada di dalam sesuatu tersebut”. Jadi, ketika anda berada di saat pagi berbuatlah yang terbaik disaat pagi tersebut, begitu pula ketika anda berada di siang, hingga malam hari. Sehingga dalam al-Fawaid, Imam Ibnu Qayyim berkata, “Tahun itu diperumpamakan sebagaimana pohon, bulan itu cabangnya, hari itu rantingnya, jam itu daunnya dan napas adalah buahnya sedangkan waktu memetik hasil adalah kiamat ”.

Jadi, sejauh mana tanaman akan menghasilkan buah baik dan berbuah manis, sangatlah tergantung kepada seberapa efektif anda bisa mengoptimalkan cabang, ranting dan daun pohon kehidupan anda untuk memasak semua sumber daya, kesempatan dan waktu yang Allah berikan kepada kita. Banyak dari kita masih terus terpenjara oleh batasan waktu, 1 tahun. Kita menyepelekan waktu bahkan, pernahkah anda ingat berapa kali dalam 1 bulan berkata, “kan aku hanya telat 10 menit ?” kepada kawan kita.

Bahkan banyak sekali dari kita yang berkata, “ah, tidak mengapa belum bisa baca Qur’an khan masih ada tahun depan. Tidak mengapa tahun ini bolong-bolong shalatnya, khan masih ada tahun depan”. Parameter kita selalu tahun depan. Padahal sebagai seorang yang beriman, 1 menit bahkan 1detik yang tersia-sia dalam hidup adalah kerugian. Karena 1 menit yang kita sia-sia kan bisa saja adalah 1 menit yang terakhir dalam hidup kita. karena uang bisa dicari, tenaga bisa diisi namun waktu tidak akan berputar kembali.

Jadi marilah pergunakan waktu sebaik mungkin. Mari isi setiap detik, menit dan jam yang kita lalui adalah detik, menit dan jam yang terbaik untuk kehidupan kita di dunia dan di akhirat kelak.

Sahabat yang benar dan membenarkan

Sahabat, adalah teman. Ia adalah orang-orang pilihan yang kita pilih untuk menjadi seseorang yang ter…. untuk kita.
Sahabat yang baik, adalah orang-orang yang selalu menegur bila salah dan mendukung bila benar. Ia tidak membungkus pukulan dan kritik dengan senyum manis. Ia adalah orang-orang yang ada disaat kita sedih. Sahabat adalah orang-orang yang sering kita jadikan panutan.
Tentang memilih panutan, Rasul saw telah banyak mengingatkan kita. Dalam salah satu nasihatnya, ia bersabda, “Siapa yang berteman dengan pandai besi maka akan terciprat bunga apinya. Sedangkan siapa yang berteman dengan penjual parfum maka ia akan terikut harumnya juga”. Pentingnya mencari panutan bahkan telah diingatkan dalam firmanNya.
Rasulullah SAW bersabda, Seseorang itu “adalah menurut agama sahabat (karib)nya. Karena itu, ada baiknya seseorang dari kamu meneliti dulu siapa yang akan dijadikan sahabatnya” (HR Abu Dawud dan At-Turmudzi).
Rasulullah saw, bersabda ; “akan muncul para pengajak neraka jahanam. Barangsiapa mengabulkan seruannya, akan terjerumus kedalamnya. Sahabat kemudian membalas, “wahai Rasulullah jelaskan ciri-cirinya kepada kami, mereka adalah kaum dari kalangan kita sendiri. Mereka berbicara dengan bahasa kita”. Sahabat bertanya kembali, lalu apa yang tuan perintahkan kepada kami jika kami menemukan hal semacam ini. Sabdanya; hendaklah kamu tetap berada pada barisan umat Islam dan Imamnya. Jika tidak ada lagi umat Islam dan Imamnya, tinggalkanlah semua golongan itu sekalipun engkau harus menggigit akar pohon sampai mati dalam keadaan demikian” (H.R. Ibnu Majah).
Sahabat Rakhmatillah, sabda Rasul saw telah mengingatkan kita untuk mencari sahabat yang tepat agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak kita inginkan dikemudian hari. Lalu siapakah SAHABAT kita ? Sudahkan ia seperti para SAHABAT Rasul saw ? Ataukah kita sebagai SAHABAT sudah bertindak seperti para SAHABAT Rasul saw ? yang Membenarkan seperti Sahabat Abu Bakar Ashidiq ra, yang Memperkuat layaknya Sahabat Umar bin Khatab ra, yang Melengkapi layaknya Sahabat Utsman bin Affan ra dan yang Memperindah bagaikan Sahabat Ali bin Abu Muthalib ra ? Dan para sahabat Rasul saw yang lainnya.
Sudahkah kita seperti mereka yang diabadikan dalam surah An Nisaa : 69 “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah SWT, yaitu para Nabi, para shadiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman-teman yang sebaik-baiknya” .Pembaca Rahmatillah, sahabat sama halnya juga dengan kita. Ia hanyalah seorang manusia akhir jaman yang mencoba menjadi yang terbaik.
Menajamkan persahabatan, membutuhkan proses layaknya besi diubah menjadi mata pisau. Ia ditempa oleh kerasnya palu ‘waktu’. Ia dibakar oleh api ‘setiap kejadian’.
Memilih sahabat adalah memilih masa depan ujar para alim ulama. Namun menjadi sahabat yang Membenarkan, Memperkuat, Melengkapi dan Memperindah pasti lebih cantik dan sempurna, semua ini adalah tugas kita semua, seperti firmanNya dalam Al Ashr : 1-3, “Demi Masa, Sesungguhnya Manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasehat-nasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menehati supaya menetapi kesabaran”.
Wallahualam bishab

Maaf dan Marah

Seperti pagi-pagi yang biasa dijalani. Aku melewati beberapa blok jalan dan menaiki beberapa jalan penyeberangan. Pagi itu Hong Kong, dibalut oleh limpahan cuaca yang sungguh luar biasa dinginnya 9oC (minimal untuk orang yang lahir dan besar di daerah tropis). Setelah beberapa blok dan hampir sampai, di depan Mc Donald tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya menabrak. Ditinggalkanlah, noda di jaket tebal yang ku beli semalam.

Bersungut-sungut, ku tatap matanya. Muiishi’ah koko …. Sebait kalimat permohonan maaf meluncur darinya. Walau sepintas dan sekenanya saja ia ucapkan permohonan maafnya. Tapi tetap saja, ku bales pula it’s ok, nevermind plus senyum khas orang Indonesia.

Tidak ada dendam. Tidak pula saling sumpah serapah apalagi menggunakan kekerasan. Hanya senyum dan peng’ikhlasan yang saling kami berikan satu sama lain. Aku berlalu dan ia pun melanjutkan perjalanan. Semua selesai tidak lebih dari 5 menit, beres. Dan boleh ku jamin, ia pun akan berpikiran yang sama dengan aku.

Setelah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di tempat tujuan, ku ambil jalan pintas menuju pasar. Belanja sayur-mayur dan beberapa bahan kebutuhan mingguan, menjadi sebuah pekerjaan yang (ternyata) meng-asyikan. Berburu barang bagus dengan harga murah menjadi sebuah kenikmatan tersendiri. Apalagi, bila mendapatkan barang lebih murah dibandingkan dengan yang lain untuk barang-barang yang sama.

Puas, mencari dan meringkasi semua yang kira-kira diperlukan untuk seminggu, ku pilih jalur tercepat menuju rumah. Perut yang sudah menuntut haknya, kerongkongan yang minta di basahi dan kaki yang mengharap diistirahatkan bersatu padu dengan pegalnya tangan membawa sayur mayur, ikan, bawang, cabai dan susu seperti berteriak “Makan dan Istirahat”.

Sesampai di pintu rumah. Tidak tahu dari mana awalnya, munculah “hawa-hawa setan”. Sepertinya, apa saja bisa memacu kemarahan. Pintu yang terlalu lama dibuka, makanan yang belum tersaji, rumah yang belum rapi, istri yang merengek minta dimanja, air minum yang belum tersedia, semua bisa menyebabkan kemarahan.

Selesai merapikan barang-barang, istriku yang sibuk meracik bahan untuk makan malam tidak sadar meletakkan tepung dan menghalangi jalan. Benar saja, “bruk” tepung yang biasanya membuat lauk pauk nikmat kini membuat seluruh rumah makin kotor dan ruwet. Teriakan terdengar. Nada kecewa jelas sekali terasa, “Neng, gimana sih”. Istriku yang seharian tadi juga lelah karena mengajar dan berbenah, tak kalah kesal menyahut, “mas yang harusnya hati-hati”.

Tidak ada senyuman. Tidak ada permintaan maaf, bahkan makan malam pun hambar.

3 jam sudah berlalu. Belum ada sapaan, tiada pula penyesalan. Beberapa pekerjaan mingguan yang menjadi tugas rutin untuk esok tidak terselesaikan, BT ungkap para abg. Malam makin larut, setelah membersihkan piring kotor terakhir. Kuambil wudhu dan kuajak kekasihku untuk shalat berjamaah.

Dalam shalat, baru kusadari kemiripan dua kejadian yang baru kualami ini. Sebabnya sama, ‘khilaf’. Bedanya hanya satu, tadi pagi aku mengalaminya karena orang lain, sedang sore ini aku mengalaminya karena istri pilihan Allah kepada-ku. Orang terdekat dan ku cinta’i.

Namun, mengapa ? pada kejadian yang pertama aku lebih bisa menjaga emosi. Langsung tersadar bahwa ia hanya manusia yang tidak luput dari kesalahan seperti aku. Belum pula kukenal ia, tidak tahu siapa dan mengapa ia menabrak-ku ? yang ku tangkap hanyalah, bahwa mungkin ia sedang tergesa-gesa seperti aku. Mungkin ia tidak sengaja mengotori jaket-ku.?

Tetapi mengapa, ketika kejadian itu dilakukan oleh orang yang saat ini seharusnya sangat ku kenal, dekat dan kucintai, aku tak kuasa berlaku sabar dan berhenti untuk tidak kecewa ?

MENGAPA ? terkadang dengan orang yang paling dekat dengan kita, Ibu, Ayah, Istri, Anak, Saudara, Keponakan, Tante, Om . . . . kita lebih cepat kecewa, kita lebih arogan dan sering bersikap tidak mau mengerti, bahwa mereka juga manusia. Mengapa kepada mereka, kita malah lebih sering membentak, berteriak bahkan memukul ?

Selesai ber’tafakur’. Ku bereskan semua. Sambil membawakan segelas susu aku berkata, “maafkan abang ya neng. Abang salah”. Istriku pun menyambutnya dengan anggukan dan menjawab. “enggak, eneng yang salah. Maafkan eneng ya bang”.

Akhirnya kami tutup sisa malam ini dengan saling berisak tangis dan berjanji, se-capek, se-letih dan se-sibuk apapun, harus bisa meredam emosi. Kepada orang lain saja, kita bisa tersenyum dan memaafkan. Maka kepada mereka tentu, harus lebih. Sebab mereka adalah bagian diri ini.

Maafkan ya . . . . ..neng

Bertemu dengan Nya Melalui Jilbab

Tubuhnya sedang, ideal bagi kebanyakan wanita indonesia. Seorang Pujasera (putri jawa kelahiran sumatera), pergi dengan semangat ingin merubah nasib ia akhirnya terdampar di Hong Kong. Semenjak pergi merantau, ia sudah ingin menanggalkan identitasnya dan mengantinya dengan identitas ke-Islaman. Walau harus pergi dari rumah dengan segudang cercaan dan menemui hambatan dalam mengurus segala persyaratan dalam hijrahnya yang pertama ke Hong Kong. Sungguh semua dibayar Allah cash and carry di Hong Kong ini.

Sejatinya, ia bernama ….. namun ia lebih senang dipanggil Nanda. Semangatnya dalam beribadah sungguh luar biasa. 3 tahun ini ia masuk Islam, namun hampir semua ibadah wajib dan sunnah sudah bisa ia lakukan dengan baik. Bahkan ia membayar semua hutang puasa Ramadhan ketika ia belum tahu tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan. Ikrarnya dipertegas dikantor kita disaksikan kurang lebih 10 orang, menggetarkan jiwa.

Membayar zakatnya, tidak pernah lengah. Bila sedang harus kirim ke kampung lebih sehingga uang gaji pas-pasan, ia tidak ingin melepaskan bercengkrama dengan Rasul saw, ia selalu ber infak dan shodaqah.

Semua bermula dari JILBAB. 2 tahun yang lalu ia pulang untuk cuti pertama kalinya dari Hong Kong. Sesampai di rumah setelah semua oleh-oleh terbagi dan lelah serta penat terlepas, maka berdandanlah ia. Dengan model baju paling baik standar Hong Kong, dengan make up terindah kelas Hong Kong ditambah parfum semerbak ala artis Hong Kong ia temui semua teman-temannya.

Sahabat yang dulu sering mengajaknya ke musholla dan mengaji. Sahabat yang dulu pernah membuatnya terkesima akan makna sebuah nilai iman-islam. Tersentak ia ketika mendengar, “koq berubah sih nda…..cantik pake jilbab”. Jilbab telah menjadi kata-kata yang begitu menyentaknya. Tak tahan ia merasa sendiri di tempat itu, maka pamitlah ia kemudian mencari apa jilbab itu ?

Sekarang, nanda sudah mantap. Saya akan berjilbab ketika berangkat lagi ke Hong Kong. Larangan agent diindahkan, dibulatkan tekad menghadap kepada majikan dan Kun fa ya Kun, Dialah Allah SWT Yang Maha Berkehendak (Al Baqarah : 117). Semua lancar. Ibadah diperbolehkan, jilbab dapat dikerjakan. Allah Maha Besar.

Jilbab yang di Indonesia sangat lumrah dipakai dan dicopot. Shalat yang sangat sering lumrah di akhir-akhirkan, puasa sunnah atau wajib yang sangat banyak godaannya untuk dilaksanakan, di Hong Kong menjadi sebuah barang mahal. Barang yang kadang mesti ditebus dengan mahal dan butuh perjuangan. Jilbab dan keindahan bisa beribadah adalah sebuah karunia yang besar. Yang perlu Ikhtiar kuat dalam melaksanakannya, sampai Allah sendiri yang menilai sudahkah kita menjadi hambaNya yang Ber-Iman (Al Ankabut : 2 ) dan bukankah ciri orang yang beriman adalah seperti yang tertulis dalam firmanNya, Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya dan mereka tidak menyombongkan diri (As-Sajadah : 15)

Jatuh Itu Nikmat

Bruuk. Kencang juga bunyi itu terdengar. Ulfa-istriku langsung berlari menyongsong sesuatu yang jatuh tadi. Sejurus kemudian, pecah lah kesunyian rumah kami, wwaa..... Kencang dan panjang terdengar tangis itu. Kulihat di kamar sebelah anak pertama kami terduduk sambil menangis memegang mainan ke sayangannya, Keroro. Jelas, terlihat ia terjatuh. Raut muka kesedihan dan menahan sakit, terlihat menggantung di wajahnya yang putih. Entah sudah kali keberapa ia terjatuh. Tidak terhitung lagi berapa banyak luka yang tertoreh di badannya yang mulus.
Dua bulan yang lalu, saat lintang berumur 11 bulan, ia belajar berjalan seorang diri. Tertatih, terseok, terbentur dan terjatuh ia alami semua. Tubuhnya yang kecil dan terlihat ringkih itu, kini makin kuat dan berotot. Masih teringat dengan jelas, saat jatuh pertama anak kami.
Raut wajahnya yang sedih dan terluka, membetot urat nadi kami. Menangis, itulah yang kami lakukan berdua saat itu. Begitu besarnya penyesalan yang menggelayuti kami. Orang tua macam apa kami ? hingga anak yang dengan pertaruhan nyawa kami hadirkan di dunia ini, terjatuh. Bahkan terbersit pikiran untuk melarangnya belajar berjalan lagi. Tapi tidak, itu tidak kami lakukan. Sebab kami percaya bahwa jatuh itu nikmat. Bukan larangan yang dibutuhkannya tapi pengawasan, tegas kami.
Benar saja, ia tidak menyerah. Sejurus kemudian, ia kembali tersenyum dan ceria bermain kembali. Bukan hanya sedih yang kami rasakan ketika melihat lintang beraktivitas. Terkadang bahkan was-was pun menggelayut ketika tanpa peduli, ia ngeloyor main entah kemana. Ia jelajahi setiap sudut dan kolong rumah kami. Semua di gigit dan di pegang. Pisang dan pisau sama saja di matanya, semua mainan.
1 tahun 2 bulan kini umurnya. Berbagai tingkah sudah bisa ia tiru. Kembali ke permasalahan jatuh, saat ini bintang sejati kami sudah bisa berdiri dengan tegak. Maju mundur dengan lancar, malah dengan gayanya yang khas, sekarang ia sudah berlari kesana-kesini. Mengejar bola karet yang baru di beli. Kalo di runut, berbagai kemajuan yang ada karena lintang tidak pernah menyerah. Ia tidak menghitung berapa kali sudah terjatuh. Semangatnya untuk bisa berjalan seperti memberikan pejaran bahwa ‘jatuh itu nikmat, setiap kegagalan adalah pemicu semangat dan pelajaran berharga tuk menapaki kesuksesan.
Pembaca iqro yang baik. Pepatah kono mengatakan, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Saat kecil, bukankah kita tidak pernah menghitung berapa kali telah jatuh ketika belajar berjalan dahulu ? semua sirna berubah menjadi nikmat ketika anda bisa berjalan dan berlari. Cita-cita yang tinggi pun kita gantungkan. Tapi seiring dengan waktu semua sirna, hilang. Kita bukan hanya takut belajar berjalan. Bahkan memikirkan berjalan saja kita sudah takut.
Sebenarnya dalam jatuh ada pesan yang disampaikan Allah kepada kita. Pesan itu adalah jatuh memberikan pelajaran agar anda tidak putus asa dan tidak mengulangi kesalahan. Coba sekarang anda bayangkan, billa saat kecil dahulu, kita menyerah tidak lagi mau belajar berjalan apakah saat ini sanggup berjalan ? Thomas Alva Edison bemomentar ketika ditanya tentang kegagalan eksperimentalnya yang mencapai 5000 kali, “saya tidak mengatakan saya telah gagal 5000 kali. Saya berhasil menemukan ada 5000 bahan yang tidak cocok untuk membuat lampu pijar”. Lihat, jawaban optimis Thomas. Sosok yang akhirnya sukses menemukan lampu pijar.
Untuk sukses hanya diperlukan 1% kejeniusan, sedangkan 99% lainnya adalah kerja keras. Ucapan Albert Einstein ini pun menegaskan sesuatu. Dengan kerja keras dan doa, Insya Allah impian akan dapat di raih. Seperti lintang, anak kami. Mulailah tidak lagi memikirkan berapa kali anda telah gagal berwirausaha, sudah berapa banyak teman yang menipu anda. Mulailah terus berjalan. Sebab jatuh itu nikmat, dan makin nikmat bila kita berhasil melewati kesulitan itu.
Tapi jangan juga berprinsip n’rimo. Impian itu harus di raih dan diperjuangkan. Ciptakan lingkungan yang kondusif, bekali diri dengan ilmu sehingga dapat mendukung anda. Seperti orang tua, saudara dan bahkan sahabat. Mari raih cita-cita kita. Wallahu A`lam Bish-shawab.