Seperti pagi-pagi yang biasa dijalani. Aku melewati beberapa blok jalan dan menaiki beberapa jalan penyeberangan. Pagi itu Hong Kong, dibalut oleh limpahan cuaca yang sungguh luar biasa dinginnya 9oC (minimal untuk orang yang lahir dan besar di daerah tropis). Setelah beberapa blok dan hampir sampai, di depan Mc Donald tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya menabrak. Ditinggalkanlah, noda di jaket tebal yang ku beli semalam.
Bersungut-sungut, ku tatap matanya. Muiishi’ah koko …. Sebait kalimat permohonan maaf meluncur darinya. Walau sepintas dan sekenanya saja ia ucapkan permohonan maafnya. Tapi tetap saja, ku bales pula it’s ok, nevermind plus senyum khas orang Indonesia.
Tidak ada dendam. Tidak pula saling sumpah serapah apalagi menggunakan kekerasan. Hanya senyum dan peng’ikhlasan yang saling kami berikan satu sama lain. Aku berlalu dan ia pun melanjutkan perjalanan. Semua selesai tidak lebih dari 5 menit, beres. Dan boleh ku jamin, ia pun akan berpikiran yang sama dengan aku.
Setelah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan di tempat tujuan, ku ambil jalan pintas menuju pasar. Belanja sayur-mayur dan beberapa bahan kebutuhan mingguan, menjadi sebuah pekerjaan yang (ternyata) meng-asyikan. Berburu barang bagus dengan harga murah menjadi sebuah kenikmatan tersendiri. Apalagi, bila mendapatkan barang lebih murah dibandingkan dengan yang lain untuk barang-barang yang sama.
Puas, mencari dan meringkasi semua yang kira-kira diperlukan untuk seminggu, ku pilih jalur tercepat menuju rumah. Perut yang sudah menuntut haknya, kerongkongan yang minta di basahi dan kaki yang mengharap diistirahatkan bersatu padu dengan pegalnya tangan membawa sayur mayur, ikan, bawang, cabai dan susu seperti berteriak “Makan dan Istirahat”.
Sesampai di pintu rumah. Tidak tahu dari mana awalnya, munculah “hawa-hawa setan”. Sepertinya, apa saja bisa memacu kemarahan. Pintu yang terlalu lama dibuka, makanan yang belum tersaji, rumah yang belum rapi, istri yang merengek minta dimanja, air minum yang belum tersedia, semua bisa menyebabkan kemarahan.
Selesai merapikan barang-barang, istriku yang sibuk meracik bahan untuk makan malam tidak sadar meletakkan tepung dan menghalangi jalan. Benar saja, “bruk” tepung yang biasanya membuat lauk pauk nikmat kini membuat seluruh rumah makin kotor dan ruwet. Teriakan terdengar. Nada kecewa jelas sekali terasa, “Neng, gimana sih”. Istriku yang seharian tadi juga lelah karena mengajar dan berbenah, tak kalah kesal menyahut, “mas yang harusnya hati-hati”.
Tidak ada senyuman. Tidak ada permintaan maaf, bahkan makan malam pun hambar.
3 jam sudah berlalu. Belum ada sapaan, tiada pula penyesalan. Beberapa pekerjaan mingguan yang menjadi tugas rutin untuk esok tidak terselesaikan, BT ungkap para abg. Malam makin larut, setelah membersihkan piring kotor terakhir. Kuambil wudhu dan kuajak kekasihku untuk shalat berjamaah.
Dalam shalat, baru kusadari kemiripan dua kejadian yang baru kualami ini. Sebabnya sama, ‘khilaf’. Bedanya hanya satu, tadi pagi aku mengalaminya karena orang lain, sedang sore ini aku mengalaminya karena istri pilihan Allah kepada-ku. Orang terdekat dan ku cinta’i.
Namun, mengapa ? pada kejadian yang pertama aku lebih bisa menjaga emosi. Langsung tersadar bahwa ia hanya manusia yang tidak luput dari kesalahan seperti aku. Belum pula kukenal ia, tidak tahu siapa dan mengapa ia menabrak-ku ? yang ku tangkap hanyalah, bahwa mungkin ia sedang tergesa-gesa seperti aku. Mungkin ia tidak sengaja mengotori jaket-ku.?
Tetapi mengapa, ketika kejadian itu dilakukan oleh orang yang saat ini seharusnya sangat ku kenal, dekat dan kucintai, aku tak kuasa berlaku sabar dan berhenti untuk tidak kecewa ?
MENGAPA ? terkadang dengan orang yang paling dekat dengan kita, Ibu, Ayah, Istri, Anak, Saudara, Keponakan, Tante, Om . . . . kita lebih cepat kecewa, kita lebih arogan dan sering bersikap tidak mau mengerti, bahwa mereka juga manusia. Mengapa kepada mereka, kita malah lebih sering membentak, berteriak bahkan memukul ?
Selesai ber’tafakur’. Ku bereskan semua. Sambil membawakan segelas susu aku berkata, “maafkan abang ya neng. Abang salah”. Istriku pun menyambutnya dengan anggukan dan menjawab. “enggak, eneng yang salah. Maafkan eneng ya bang”.
Akhirnya kami tutup sisa malam ini dengan saling berisak tangis dan berjanji, se-capek, se-letih dan se-sibuk apapun, harus bisa meredam emosi. Kepada orang lain saja, kita bisa tersenyum dan memaafkan. Maka kepada mereka tentu, harus lebih. Sebab mereka adalah bagian diri ini.
Maafkan ya . . . . ..neng
Wednesday, August 15, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment