Perhatian-perhatian diberitahukan bahwa angkutan yang anda tunggu akan mengalami keterlambatan 30 hingga 40 menit, sebab masih dalam perjalanan. Suara itu samar terdengar dari speaker yang sudah tidak jelas. Kontan pecah suara hoo.. kompak terdengar dari semua penumpang yang berjumlah lebih kurang 200 orang.
Sumpah serapah keluar, makian yang memerahkan telinga berulang-ulang terucap, semua sanak famili warga kelurahan kebun binatang terucap di absen. Untung saja tidak ada aksi protes kekerasan yang terjadi. Hanya gerutu dan ngerundel yang terucap.
Saya pernah 5 jam menunggu dibandara celetuk seorang pria sambil menggendong anaknya yang tertidur. Itu sih belum seberapa pak timpal laki-laki disamping ku tidak kalah gesit menceritakan pengalaman pahitnya, waktu di Medan akhirnya saya berangkat jam 1 malam padahal sudah standy mulai sore hari. Sudah pun delay, kami bahkan merasakan diusir dari kapal yang seharusnya mengangkut kami sebab penumpang jurusan lainnya sudah naik lebih dahulu dan menyandra pesawat tujuan kami terlebih dahulu.
Ada misscordination antara petugas ground dengan di atas, jadilah mereka yang seharusnya masih menunggu di suruh naik, repotnya kami yang memang dijadwalkan terbang juga iya. Akhirnya sesampai diatas, bingunglah kita semua. Akhirnya kami diturunkan lagi. Sesudah semua barang-barang bagasi dikeluarkan kembali, akhirnya menunggu lagilah kami. Sialnya, setelah akan dapat pesawat, burung besi itu rusak dan harus di services terlebih dahulu. Bayangkan, sudah menunggu lama tanpa kepastian akhirnya dapat pesawat (tapi) RUSAK, terang laki-laki yang pergi bersama istrinya itu. Akhirnya dengan takut-takut dan sudah tanpa pilihan lainnya, kami ikut pesawat yang sudah di services itu terbang.
Beberapa menit berselang, gelombang kecewa masih saja terdengar, tapi tiba-tiba, perhatian-perhatian bagi para penumpang yang mengalami keterlambatan silahkan mengambil makan malam anda di counter informasi. Langsung saja semua orang berjajar memperlihatkan tiketnya untuk ditukar dengan sekotak makanan. Aha nasi, lumayan lah. Sorak seseorang sambil membuka kotaknya yang berisi 3 potong nugets, saus cabe dan sejumput nasi. Hening seketika terasa. Suara-suara complain yang tadi ramai tidak lagi terdengar.
Lupa adalah bagian dari sunnatullah manusia. Ia menjadi elemen penting bagi kita setidaknya untuk beberapa hal (menurut saya) ; menjadi sebuah bahan pelajaran, momentum untuk ikhlas dan sabar, ladang pahala dan menjadi sebuah tanda bagi kita semua guna saling melengkapi dan berkolaborasi untuk kebenaran dan kesabaran.
Tapi akhir-akhir ini yang terasa, lupa seringkali terlupakan dengan segera tanpa esensi apa-apa yang melingkupinya sehingga lupa tidak berubah menjadi sebuah pelajaran yang berharga namun malah segera terabaikan. Menjadi bencana berulang yang saya tangkap. Padahal jelas uraian Rasul tentang konsep kesuksesan bagi seorang muslim, barang siapa yang kualitas hidupnya pada hari ini sama dengan kemarin adalah golongan orang yang merugi dan yang lebih jelek bergelar celaka. Dari ini hanya satu pilihan kita harus lebih baik dari kemarin.
Kembali ke cepat lupa, banyak dari kita memang punya kemampuan melupakan sesuatu dengan cepat. Hinggar bingar gelombang reformasi yang membawa negara kita pada catatan sejarahnya sendiri kini mungkin hanya sesekali diingat. Padahal modal besar investasi bangsa dalam suasana yang mengharu biru negeri ini dengan berbagai kerusahan dan dampak sosialnya adalah sebuah benih yang sangat mahal.
Lain lagi dengan bencana alam. Tercatat sejak 2005 efek kerusakan alam yang terjadi karena semangat kemaruk untuk mengekspolitasi telah memaksa kita semua merasakan dampak negatifnya bersama dan dampak terbesarnya makin terasa tentu bagi mereka yang tidak punya asuransi (dhuafa). Berbagai kecerobohan penanganan angkutan umum nampaknya makin memperparah situasi negeri. Ngeri bila tinggal di rumah (karena bencana), tapi takut kalo harus berpergian mencari tempat aman lainnya (karena angkutan bermasalah).
Tercatat berbagai kecelakaan yang terjadi di darat, air dan udara. Mulai dari kecelakaan yang melibatkan bus, kereta, kapal laut yang tenggelam hingga jatuhnya maskapai penerbangan. Menurut Andre Vitchek[*] dalam The International Herald Tribune menyikapi berbagai rentetan kejadian ini dengan menulis sebuah artikel dengan judul ”Indonesia : Natural Disaster or Mass Murder”.
Deretan bencana yang sangat dahsyat itu membunuh ribuan orang, membuat cacat dan trauma lainnya, serta hilangnya harta benda. Memang semua itu menimbulkan gelombang kebersamaan dimana-mana tapi lagi-lagi hiburan kecil yang tergagas melupakan sebuah peran penting tentang arti mempersiapkan semuanya, sedia payung sebelum hujan sehingga essensi pemecahan solusi tidak terjadi.
Yang ditakutkan akhirnya bahan belajar (bencana-musibah) yang Allah SWT berikan ini tidak makin membuat kita mawas diri tapi malah menjadikan kita cuek dan tadi akhirnya cepat lupa. Semoga saya salah. Melupakan sesuatu memang terkadang diperlukan, tapi yang lebih penting tentu belajar dari lupa tadi. Agar kita sukses dan mulia tentunya.
Jam dibandara mulai menunjukkan pukul setegah 8 malam. tiba-tiba terdengar lagi suara, perhatian-perhatian untuk alasan teknis pesawat anda masih di tunda dan silahkan meninggalkan ruang tunggu untuk pindah ke ruang tunggu berikutnya, terima kasih dan selamat malam.
[*] Novelis dan Senior Fellow di Oakland Ins. USA
Wednesday, June 18, 2008
Tambahkan satu saja
Alkisah, sebelum seorang ayah meninggal, ia menitipkan sebuah surat wasiat untuk 3 orang anaknya dan berpesan agar mereka membagi hartanya yang berupa 17 ekor kuda berdasarkan wasiat itu. Di dalam surat itu, tertulis jelas bahwa anak sulung yang sudah berkeluarga dan mandiri berhak menerima 1/9. Anak kedua yang masih bersekolah berhak mendapatkan 1/3. Anak ketiga yang masih kecil dan belum bisa mencari uang berhak menerima ½ hartanya itu.
Setelah membaca wasiat itu, mereka mencoba membagi harta itu seadil-adilnya. Tetapi, tetap saja akhirnya mereka gagal dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga suatu hari, mereka bertemu dengan seseorang dan memintanya memecahkan masalah. Mari saya pinjamkan 1 ekor kuda lalu kita bagi bersama, ujarnya memberi solusi.
Aha, akhirnya mereka dapat membaginya dengan adil. 2 kuda untuk anak tertua, 6 ekor bagi yang tengah dan 9 ekor untuk si bungsu. Jumlahnya tetap 17 ekor kuda, 1 kuda pinjaman tadi tetap utuh.
Pembaca yang di Ridhoi Allah, kita tidak pernah dapat hidup sendiri. Setiap dari kita pasti punya peran dan itu ternyata berkaitan dengan pihak lainnya. Tidak ada yang lebih dominan, hanya perannya saja yang berbeda dan itu sudah di skenariokan olehNya. Ia akan perhitungkan seberapa baik dan benar optimalisasi segala sumberdaya pinjamanNya dalam peran itu kita mainkan.
Dalam kondisi yang masih carut marut ini bulan lalu kami melesakkan 3 jari, keluarga mampu menjamin satu keluarga tidak mampu, mengurangi konsumsi terutama produk import dan ikut membangun lapangan kerja. Slogan yang kami harapkan bukan basa-basi tapi menjadi esensi menambahkan satu dalam hidup kita.
Siapa satu itu ? mereka bisa siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Mereka adalah orang-orang sekitar kita yang terkadang tidak kita pahami adalah bagian dari sukses yang kini tergenggam. Rasul Saw pernah bersabda kalian di besarkan oleh orang-orang kecil diantara kalian. Itulah guidence-nya. Berperan untuk orang lain dalam bahasa yang lain.
Menengok kembali kisah diatas, 1 ekor kuda yang merupakan pinjaman itu tidaklah hilang atau berkurang, ia tetap. Menambahkan satu dalam hidup kita tidaklah akan mengurangi apa yang kita punya tapi malah (percayalah) akan meningkatkan esensi keberadaan dan kemampuan kita.
Meminjam istilah Rasul, orang inilah yang disebut Muslim, yang membuat orang disekitarnya aman serta menentramkan sekelilingnya. Be the part of solution bahasa kaum intelektual saat ini.
Pembaca yang baik, pada edisi kali ini tidak terasa sudah 15 tahun berkiprah. Sebuah rentan waktu yang kami sadari cukup tua untuk sebuah lembaga. Dalam kesederhanaan dan kedhoifan, kami mengucapkan terima kasih kepada semua yang berperan mendewasakan kami, serta maafkanlah semua kekurangan ini.
Slogan Menyantun Dhuafa, Menjalin Ukhuwah, Menggugah Etos Kerja nampaknya masih sangat relevan untuk kita gaungkan kembali menjadi sebuah pengingat bahwa kita tidak sendiri. Inilah sebuah jalan kemandirian yang menjadi pilihan kita.
Semoga anda semua masih bergairah bersama kami.
Setelah membaca wasiat itu, mereka mencoba membagi harta itu seadil-adilnya. Tetapi, tetap saja akhirnya mereka gagal dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga suatu hari, mereka bertemu dengan seseorang dan memintanya memecahkan masalah. Mari saya pinjamkan 1 ekor kuda lalu kita bagi bersama, ujarnya memberi solusi.
Aha, akhirnya mereka dapat membaginya dengan adil. 2 kuda untuk anak tertua, 6 ekor bagi yang tengah dan 9 ekor untuk si bungsu. Jumlahnya tetap 17 ekor kuda, 1 kuda pinjaman tadi tetap utuh.
Pembaca yang di Ridhoi Allah, kita tidak pernah dapat hidup sendiri. Setiap dari kita pasti punya peran dan itu ternyata berkaitan dengan pihak lainnya. Tidak ada yang lebih dominan, hanya perannya saja yang berbeda dan itu sudah di skenariokan olehNya. Ia akan perhitungkan seberapa baik dan benar optimalisasi segala sumberdaya pinjamanNya dalam peran itu kita mainkan.
Dalam kondisi yang masih carut marut ini bulan lalu kami melesakkan 3 jari, keluarga mampu menjamin satu keluarga tidak mampu, mengurangi konsumsi terutama produk import dan ikut membangun lapangan kerja. Slogan yang kami harapkan bukan basa-basi tapi menjadi esensi menambahkan satu dalam hidup kita.
Siapa satu itu ? mereka bisa siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Mereka adalah orang-orang sekitar kita yang terkadang tidak kita pahami adalah bagian dari sukses yang kini tergenggam. Rasul Saw pernah bersabda kalian di besarkan oleh orang-orang kecil diantara kalian. Itulah guidence-nya. Berperan untuk orang lain dalam bahasa yang lain.
Menengok kembali kisah diatas, 1 ekor kuda yang merupakan pinjaman itu tidaklah hilang atau berkurang, ia tetap. Menambahkan satu dalam hidup kita tidaklah akan mengurangi apa yang kita punya tapi malah (percayalah) akan meningkatkan esensi keberadaan dan kemampuan kita.
Meminjam istilah Rasul, orang inilah yang disebut Muslim, yang membuat orang disekitarnya aman serta menentramkan sekelilingnya. Be the part of solution bahasa kaum intelektual saat ini.
Pembaca yang baik, pada edisi kali ini tidak terasa sudah 15 tahun berkiprah. Sebuah rentan waktu yang kami sadari cukup tua untuk sebuah lembaga. Dalam kesederhanaan dan kedhoifan, kami mengucapkan terima kasih kepada semua yang berperan mendewasakan kami, serta maafkanlah semua kekurangan ini.
Slogan Menyantun Dhuafa, Menjalin Ukhuwah, Menggugah Etos Kerja nampaknya masih sangat relevan untuk kita gaungkan kembali menjadi sebuah pengingat bahwa kita tidak sendiri. Inilah sebuah jalan kemandirian yang menjadi pilihan kita.
Semoga anda semua masih bergairah bersama kami.
Kekuatan Tanpa Kekerasan
Saat itu, Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi), masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tuanya di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Maka tidak heran kesempatan untuk pergi ke kota bagi Arun dan dua saudara perempuannya adalah hal yang luar biasa.
Hari itu, Arun sangat gembira. Bagaimana tidak, Sang ayah minta diantar ke kota untuk menghadiri sebuah konfrensi, seharian penuh. Kota, bagi pemuda abg ini adalah laksana surga, mengunjungi teman atau menonton bioskop adalah sebuah daya tarik tersendiri. Selain mengantar ayah dan menservices mobil ia pun mendapat order dari ibunya untuk belanja keperluan sehari-hari.Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayahnya berkata, "Ayah tunggu kau disinijam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama ". baik ayah, jawab Arun. Segera ia selesaikan semua pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Setelah semua selesai. Arun pergi ke bioskop dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam ia terkejut demi melihat pukul 17:30. Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.Dengan gelisah ayahnya menanyakan "Kenapa kau terlambat?".Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu". Padahal ternyata tanpa sepengetahuannya, sang ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.Lalu Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang dengan berjalan kaki dan memikirkannya baik- baik.".Kemudian, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatu ayah tiga anak ini mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan 18 mil jarak yang harus mereka tempuh bukanlah jalanan yang nyaman. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau. Arun pun tersiksa, demi melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena ketidak jujuran yang ia lakukan.
Sebuah kisah inspiratif ini, terus saja menghantui dan menginspirasi. Bukan apa, sebab di saat yang bersamaan beredar (kembali) kisah kekerasan dalam rumah tangga. Buah hati yang masih mungil itu cacat setelah disetrika oleh ayahnya karena sebuah kesalahan sepele.
Ndidik anak. Sebuah kata yang menjadi mantra pembenaran tindak kekerasan. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, tercatat 481 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2003. Angkanya meningkat menjadi 544 kasus pada 2004, baik itu berupa kekerasan seksual, fisik, psikologis, serta ekonomi. Yang mengejutkan, ternyata 60 % pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang tuanya sendiri tutur Dr. Seto Mulyadi.
Padahal menurut Dorothy Law Nolthe :
Jika anak dibesarkan dengan Permusuhan, ia belajar BerkelahiJika anak dibesarkan dengan Cemoohan, ia belajar Rendah DiriJika anak dibesarkan dengan Penghinaan, ia belajar Menyesali diriJika anak dibesarkan dengan Toleransi, ia belajar Menahan Diri Jika anak dibesarkan dengan Dorongan, ia belajar Percaya diriJika anak dibesarkan dengan Pujian, ia belajar MenghargaiJika anak dibesarkan dengan Sebaik-baik perlakuan, ia belajar KeadilanJika anak dibesarkan dengan Rasa aman, ia belajar Menaruh KepercayaanJika anak dibesarkan dengan Dukungan, ia belajar Menyenangi DirinyaJika anak dibesarkan dengan Kasih sayang & Persahabatan, ia belajar menemukan Cinta dalam KehidupannyaMaraknya episode kekerasan yang melibatkan banyak pihak di sekolah, di jalan, di kantor serta lainnya boleh jadi harus menjadi warning kita semua. Menjadikan itu semua momentum untuk merevolusi pola ndidik anak di rumah.
Tegas (untuk sesuatu yang fundamental) berbeda dengan keras. Ia tidak boleh hilang dan terabaikan memang. Menurut Gazhali, kita dan anak adalah bagaikan busur dan anak panahnya. Tugas busur (baca : orang tua) adalah menaruh anak panah pada posisi yang tepat, menariknya dengan kuat, mengarahkannya kemudian melepaskannya dengan sekuat tenaga ke arah yang benar tentunya.
Kembali ke kisah diatas, setelah Arun dewasa ia pun bertutur jujur mengenai kisah diatas ; "Sering kali saya berpikir mengenai episode itu dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai kejujuran tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan." Sejak itu saya berjanji, tidak akan pernah berbohong lagi.
Kekuatan tanpa kekerasan, memang kuat, anda mau mencoba.
Hari itu, Arun sangat gembira. Bagaimana tidak, Sang ayah minta diantar ke kota untuk menghadiri sebuah konfrensi, seharian penuh. Kota, bagi pemuda abg ini adalah laksana surga, mengunjungi teman atau menonton bioskop adalah sebuah daya tarik tersendiri. Selain mengantar ayah dan menservices mobil ia pun mendapat order dari ibunya untuk belanja keperluan sehari-hari.Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayahnya berkata, "Ayah tunggu kau disinijam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama ". baik ayah, jawab Arun. Segera ia selesaikan semua pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Setelah semua selesai. Arun pergi ke bioskop dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam ia terkejut demi melihat pukul 17:30. Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.Dengan gelisah ayahnya menanyakan "Kenapa kau terlambat?".Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu". Padahal ternyata tanpa sepengetahuannya, sang ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.Lalu Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang dengan berjalan kaki dan memikirkannya baik- baik.".Kemudian, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatu ayah tiga anak ini mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan 18 mil jarak yang harus mereka tempuh bukanlah jalanan yang nyaman. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau. Arun pun tersiksa, demi melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena ketidak jujuran yang ia lakukan.
Sebuah kisah inspiratif ini, terus saja menghantui dan menginspirasi. Bukan apa, sebab di saat yang bersamaan beredar (kembali) kisah kekerasan dalam rumah tangga. Buah hati yang masih mungil itu cacat setelah disetrika oleh ayahnya karena sebuah kesalahan sepele.
Ndidik anak. Sebuah kata yang menjadi mantra pembenaran tindak kekerasan. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, tercatat 481 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2003. Angkanya meningkat menjadi 544 kasus pada 2004, baik itu berupa kekerasan seksual, fisik, psikologis, serta ekonomi. Yang mengejutkan, ternyata 60 % pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang tuanya sendiri tutur Dr. Seto Mulyadi.
Padahal menurut Dorothy Law Nolthe :
Jika anak dibesarkan dengan Permusuhan, ia belajar BerkelahiJika anak dibesarkan dengan Cemoohan, ia belajar Rendah DiriJika anak dibesarkan dengan Penghinaan, ia belajar Menyesali diriJika anak dibesarkan dengan Toleransi, ia belajar Menahan Diri Jika anak dibesarkan dengan Dorongan, ia belajar Percaya diriJika anak dibesarkan dengan Pujian, ia belajar MenghargaiJika anak dibesarkan dengan Sebaik-baik perlakuan, ia belajar KeadilanJika anak dibesarkan dengan Rasa aman, ia belajar Menaruh KepercayaanJika anak dibesarkan dengan Dukungan, ia belajar Menyenangi DirinyaJika anak dibesarkan dengan Kasih sayang & Persahabatan, ia belajar menemukan Cinta dalam KehidupannyaMaraknya episode kekerasan yang melibatkan banyak pihak di sekolah, di jalan, di kantor serta lainnya boleh jadi harus menjadi warning kita semua. Menjadikan itu semua momentum untuk merevolusi pola ndidik anak di rumah.
Tegas (untuk sesuatu yang fundamental) berbeda dengan keras. Ia tidak boleh hilang dan terabaikan memang. Menurut Gazhali, kita dan anak adalah bagaikan busur dan anak panahnya. Tugas busur (baca : orang tua) adalah menaruh anak panah pada posisi yang tepat, menariknya dengan kuat, mengarahkannya kemudian melepaskannya dengan sekuat tenaga ke arah yang benar tentunya.
Kembali ke kisah diatas, setelah Arun dewasa ia pun bertutur jujur mengenai kisah diatas ; "Sering kali saya berpikir mengenai episode itu dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai kejujuran tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan." Sejak itu saya berjanji, tidak akan pernah berbohong lagi.
Kekuatan tanpa kekerasan, memang kuat, anda mau mencoba.
Kekuatan Tanpa Kekerasan
Saat itu, Dr. Arun Gandhi (cucu dari Mahatma Gandhi), masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tuanya di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Maka tidak heran kesempatan untuk pergi ke kota bagi Arun dan dua saudara perempuannya adalah hal yang luar biasa.
Hari itu, Arun sangat gembira. Bagaimana tidak, Sang ayah minta diantar ke kota untuk menghadiri sebuah konfrensi, seharian penuh. Kota, bagi pemuda abg ini adalah laksana surga, mengunjungi teman atau menonton bioskop adalah sebuah daya tarik tersendiri. Selain mengantar ayah dan menservices mobil ia pun mendapat order dari ibunya untuk belanja keperluan sehari-hari.Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayahnya berkata, "Ayah tunggu kau disinijam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama ". baik ayah, jawab Arun. Segera ia selesaikan semua pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Setelah semua selesai. Arun pergi ke bioskop dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam ia terkejut demi melihat pukul 17:30. Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.Dengan gelisah ayahnya menanyakan "Kenapa kau terlambat?".Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu". Padahal ternyata tanpa sepengetahuannya, sang ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.Lalu Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang dengan berjalan kaki dan memikirkannya baik- baik.".Kemudian, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatu ayah tiga anak ini mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan 18 mil jarak yang harus mereka tempuh bukanlah jalanan yang nyaman. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau. Arun pun tersiksa, demi melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena ketidak jujuran yang ia lakukan.
Sebuah kisah inspiratif ini, terus saja menghantui dan menginspirasi. Bukan apa, sebab di saat yang bersamaan beredar (kembali) kisah kekerasan dalam rumah tangga. Buah hati yang masih mungil itu cacat setelah disetrika oleh ayahnya karena sebuah kesalahan sepele.
Ndidik anak. Sebuah kata yang menjadi mantra pembenaran tindak kekerasan. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, tercatat 481 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2003. Angkanya meningkat menjadi 544 kasus pada 2004, baik itu berupa kekerasan seksual, fisik, psikologis, serta ekonomi. Yang mengejutkan, ternyata 60 % pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang tuanya sendiri tutur Dr. Seto Mulyadi.
Padahal menurut Dorothy Law Nolthe :
Jika anak dibesarkan dengan Permusuhan, ia belajar BerkelahiJika anak dibesarkan dengan Cemoohan, ia belajar Rendah DiriJika anak dibesarkan dengan Penghinaan, ia belajar Menyesali diriJika anak dibesarkan dengan Toleransi, ia belajar Menahan Diri Jika anak dibesarkan dengan Dorongan, ia belajar Percaya diriJika anak dibesarkan dengan Pujian, ia belajar MenghargaiJika anak dibesarkan dengan Sebaik-baik perlakuan, ia belajar KeadilanJika anak dibesarkan dengan Rasa aman, ia belajar Menaruh KepercayaanJika anak dibesarkan dengan Dukungan, ia belajar Menyenangi DirinyaJika anak dibesarkan dengan Kasih sayang & Persahabatan, ia belajar menemukan Cinta dalam KehidupannyaMaraknya episode kekerasan yang melibatkan banyak pihak di sekolah, di jalan, di kantor serta lainnya boleh jadi harus menjadi warning kita semua. Menjadikan itu semua momentum untuk merevolusi pola ndidik anak di rumah.
Tegas (untuk sesuatu yang fundamental) berbeda dengan keras. Ia tidak boleh hilang dan terabaikan memang. Menurut Gazhali, kita dan anak adalah bagaikan busur dan anak panahnya. Tugas busur (baca : orang tua) adalah menaruh anak panah pada posisi yang tepat, menariknya dengan kuat, mengarahkannya kemudian melepaskannya dengan sekuat tenaga ke arah yang benar tentunya.
Kembali ke kisah diatas, setelah Arun dewasa ia pun bertutur jujur mengenai kisah diatas ; "Sering kali saya berpikir mengenai episode itu dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai kejujuran tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan." Sejak itu saya berjanji, tidak akan pernah berbohong lagi.
Kekuatan tanpa kekerasan, memang kuat, anda mau mencoba.
Hari itu, Arun sangat gembira. Bagaimana tidak, Sang ayah minta diantar ke kota untuk menghadiri sebuah konfrensi, seharian penuh. Kota, bagi pemuda abg ini adalah laksana surga, mengunjungi teman atau menonton bioskop adalah sebuah daya tarik tersendiri. Selain mengantar ayah dan menservices mobil ia pun mendapat order dari ibunya untuk belanja keperluan sehari-hari.Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayahnya berkata, "Ayah tunggu kau disinijam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama ". baik ayah, jawab Arun. Segera ia selesaikan semua pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Setelah semua selesai. Arun pergi ke bioskop dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam ia terkejut demi melihat pukul 17:30. Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.Dengan gelisah ayahnya menanyakan "Kenapa kau terlambat?".Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu". Padahal ternyata tanpa sepengetahuannya, sang ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.Lalu Ayahnya berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang dengan berjalan kaki dan memikirkannya baik- baik.".Kemudian, dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatu ayah tiga anak ini mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan 18 mil jarak yang harus mereka tempuh bukanlah jalanan yang nyaman. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan dibelakang beliau. Arun pun tersiksa, demi melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena ketidak jujuran yang ia lakukan.
Sebuah kisah inspiratif ini, terus saja menghantui dan menginspirasi. Bukan apa, sebab di saat yang bersamaan beredar (kembali) kisah kekerasan dalam rumah tangga. Buah hati yang masih mungil itu cacat setelah disetrika oleh ayahnya karena sebuah kesalahan sepele.
Ndidik anak. Sebuah kata yang menjadi mantra pembenaran tindak kekerasan. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, tercatat 481 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang tahun 2003. Angkanya meningkat menjadi 544 kasus pada 2004, baik itu berupa kekerasan seksual, fisik, psikologis, serta ekonomi. Yang mengejutkan, ternyata 60 % pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang tuanya sendiri tutur Dr. Seto Mulyadi.
Padahal menurut Dorothy Law Nolthe :
Jika anak dibesarkan dengan Permusuhan, ia belajar BerkelahiJika anak dibesarkan dengan Cemoohan, ia belajar Rendah DiriJika anak dibesarkan dengan Penghinaan, ia belajar Menyesali diriJika anak dibesarkan dengan Toleransi, ia belajar Menahan Diri Jika anak dibesarkan dengan Dorongan, ia belajar Percaya diriJika anak dibesarkan dengan Pujian, ia belajar MenghargaiJika anak dibesarkan dengan Sebaik-baik perlakuan, ia belajar KeadilanJika anak dibesarkan dengan Rasa aman, ia belajar Menaruh KepercayaanJika anak dibesarkan dengan Dukungan, ia belajar Menyenangi DirinyaJika anak dibesarkan dengan Kasih sayang & Persahabatan, ia belajar menemukan Cinta dalam KehidupannyaMaraknya episode kekerasan yang melibatkan banyak pihak di sekolah, di jalan, di kantor serta lainnya boleh jadi harus menjadi warning kita semua. Menjadikan itu semua momentum untuk merevolusi pola ndidik anak di rumah.
Tegas (untuk sesuatu yang fundamental) berbeda dengan keras. Ia tidak boleh hilang dan terabaikan memang. Menurut Gazhali, kita dan anak adalah bagaikan busur dan anak panahnya. Tugas busur (baca : orang tua) adalah menaruh anak panah pada posisi yang tepat, menariknya dengan kuat, mengarahkannya kemudian melepaskannya dengan sekuat tenaga ke arah yang benar tentunya.
Kembali ke kisah diatas, setelah Arun dewasa ia pun bertutur jujur mengenai kisah diatas ; "Sering kali saya berpikir mengenai episode itu dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai kejujuran tanpa kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan." Sejak itu saya berjanji, tidak akan pernah berbohong lagi.
Kekuatan tanpa kekerasan, memang kuat, anda mau mencoba.
Subscribe to:
Posts (Atom)