Monday, July 23, 2007

jadilah PELITA

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya.Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama sajabuat saya! Saya bisa pulang kok."Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu,biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawapelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabraksi buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalanbuat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si butabertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita inisupaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamutidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.. Menyadari situasiitu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidakmelihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidakapa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, sipenabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka punmelanjutkan perjalanan masing-masing.Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang butakita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun,"Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justrumau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara berbarengan merekabertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab,"Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantumenemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja iamenubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia punberlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikirandalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi sayabisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihatjalan mereka."Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankankebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan,melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin,keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah oranglain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinyasendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melaluiperistiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hatikarena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain.Ia juga belajar menjadi pemaaf.Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran,yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun merekabisa melihat.Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yangsebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Merekabisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta,sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita.Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihatpelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnyauntuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnyamemiliki pelita kebijaksanaan.Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakahnyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi dirikita sendiri dan sekitar kita.Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakandari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelitakebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpapenghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalangmembuahkan penciuman. Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalahkebijaksanaan.Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

No comments: