wajah kuyu itu masih juga belum berani tengadah menatap lawan bicaranya. mulutnya seperti terkunci tidak berani memulai pembicaraan. tubuh kurus dan penuh luka di tangan itu tetap membisu bahkan hingga sepuluh menit diawal pembicaraan kita. pada awalnya rona muka cantik namun berbalut masalah itu tidak begitu mengusik ku. ning-namanya memperkenalkan diri, saat ku tanya.
sepuluh menit sudah berlalu, puas ita mengutarakan kesedihan dan dengkinya pada majikan selama itu pula ning hanya diam. sesekali saja ia mencuri pandang pada teman yang diantarkannya itu. selebihnya diam dan tertunduk adalah pilihannya.
keheningan yang ning buat di ruangan saya, membuat tak kuasa pula membuat aku bertanya, keluarga sehat-sehat mbak ning ? Alhamdullilah sehat pak jawabnya. setelah itu kembali diam yang menjadi pilihannya. lazimnya, siapa saja yang masuk ruangan kerja ini selalu saja bercerita tentang malangnya nasib mereka. bencinya ia akan seluruh kemalangan yang menimpanya.
suami yang tak tahu diuntung, nasib sial yang selalu menggelayut, makian hingga siksaan majikan diiringi oleh tetes air mata adalah hal yang lumrah. tapi tidak dengan ning ini. saya anak tertua dari 3 bersaudara. jawabnya singkat pada pertanyaan yang kembali ku ajukan. Pertanyaan khas orang-orang putus asa tak terdengar dari bibirnya. tanpa raut muka yang kecewa berlebihan ia ceritakan rentetan perjalanan hidup yang ia dan keluarganya alami.
terlahir sebagai wanita di dalam keluarga petani miskin di desa sudah merupakan perjuangan tersendiri di kampung, terangnya memberi gambaran. hari-hari dilalui dengan kerja dan kerja. sekolah menjadi barang mahal yang bersama-sama dengan kesehatan seperti tidak layak bagi ning dan adik-adiknya.
untuk memperbaiki nasib dan menyekolahkan adik-adik lah alasan ning meninggalkan kampung. hutang rentenir pun akhirnya membuat sepetak tanah warisan kini hilang sudah. untuk ongkos masuk ke PT terangnya. namun baru 5 bulan ia di Hong Kong, saya di interminit pak, terang ning sambil berusaha menguatkan diri.
Ning bertutur, bahwa hidup terasa makin sulit ketika bapaknya menjadi gila. Gila, kejarku ? iya pak ! tegasnya. bapak kena stress sebab sawah kami lima kali gagal panen. hutang bertumpuk-tumpuk padahal kami juga sudah tidak punya apa-apa, makan pun 2 hari sekali lanjutnya. Seketika itu pula, seluruh biduk keluarga menjadi tanggung jawabnya. saya putuskan berhenti sekolah, kerja serabutan ia lakukan dan akhirnya menikah menjadi pilihan. Agar tidak membebankan orang tua, pesan emak saat ijab kabul.
ning, mau ? tanya ku. Saya juga tidak ada pilihan lain pak, bapak dan emak sakit, adik masih kecil-kecil tambahnya. kini mulai terbaca beban berat itu. sudah demikian hebat cobaan yang harus kau tempuh ning, batin ku dalam hati.
lalu suami dimana sekarang ? tanyaku mencari tahu ? suami sama istri mudanya, jawabnya acuh. hah...ujarku, jadi ning sudah pisah ? iya pak jawabnya. Ning putuskan cerai saat berumur 19 tahun, kedua anak ikut bersama saya. waktu itu, takbiran. mas datang kerumah naik motor goncengan sama wanita. Waktu saya bukakan pintu, wanita itu kaget sebab kita sama-sama hamil, bedanya dia 6 bulan saya 9 bulan, jadi saat umur kehamilan saya 3 bulan ternyata mas nandur ditempat lain. jelasnya dengan suara agak parau. usai lebaran saya putuskan cerai. air mata mulai terlihat menetes di ujung matanya.
Ning sedih ? Ning marah pada Allah ? tanyaku mulai berdakwah. semenit tidak ada jawaban, lima menit masih tangis yang terdengar. Akhirnya mau juga ia melanjutkan, Ning kangen anak-anak. apa sudah makan mereka ya ? ning takut tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi mereka. Ning tidak pernah marah sama Allah koq pak. tegasnya. Ning yakin, Gusti Allah Mboten Sare, Gusti Pangeran Mirsani lan gadah rencono sing paling apik kanggo hambane.
tak terasa, kalimat terakhir sungguh menggetarkan jiwa ini. Ning yang sederhana, gadis belia tamat 3 smp. Ning yang ibu dua anak dan kini di interminite, Ning yang mungil namun berhati baja, mengingatkan kita bahwa seburuk apa pun skenario hidup ini, kita punya Sutradara yang Maha Semuanya.
Allah Mboten Sare....Allah Mirsani Lan Gadah Rencono Sing Palling Apik Kanggo hambaNe. pesan ning pada kita. lalu bila Allah pasti melihat, mengapa juga kita masih melakukan tindakan tercela ? entah mengapa, tapi yang pasti Ning lebih baik dari saya, batinku.
Ning ingat bapak di rumah, kata-kata itu terucap ketika ia ku antarkan sampai pintu kantor. Apa ning salah pak, kalo bapak kami pasung ? memecah sunyi. terperanjat saya mendengar pertanyaan tersebut. semenit, tak ada ide, jawaban apa yang akan terucap ? tak ada biaya ujarnya sambil mencari sendal jepitnya diantara sepatu yang sudah berserakan, belum sempat ku menjawab pertanyaannya, ia pamit pulang ke shelter dan tanpa menanti jawaban ia ucapkan, Wassalamu'alaikum pak ogie.
Sejurus kemudian, ning sudah menghilang. hanya harap yang seketika itu terbersit, doakan saya ya ning ... ... ....
Monday, July 23, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment