Perhatian-perhatian diberitahukan bahwa angkutan yang anda tunggu akan mengalami keterlambatan 30 hingga 40 menit, sebab masih dalam perjalanan. Suara itu samar terdengar dari speaker yang sudah tidak jelas. Kontan pecah suara hoo.. kompak terdengar dari semua penumpang yang berjumlah lebih kurang 200 orang.
Sumpah serapah keluar, makian yang memerahkan telinga berulang-ulang terucap, semua sanak famili warga kelurahan kebun binatang terucap di absen. Untung saja tidak ada aksi protes kekerasan yang terjadi. Hanya gerutu dan ngerundel yang terucap.
Saya pernah 5 jam menunggu dibandara celetuk seorang pria sambil menggendong anaknya yang tertidur. Itu sih belum seberapa pak timpal laki-laki disamping ku tidak kalah gesit menceritakan pengalaman pahitnya, waktu di Medan akhirnya saya berangkat jam 1 malam padahal sudah standy mulai sore hari. Sudah pun delay, kami bahkan merasakan diusir dari kapal yang seharusnya mengangkut kami sebab penumpang jurusan lainnya sudah naik lebih dahulu dan menyandra pesawat tujuan kami terlebih dahulu.
Ada misscordination antara petugas ground dengan di atas, jadilah mereka yang seharusnya masih menunggu di suruh naik, repotnya kami yang memang dijadwalkan terbang juga iya. Akhirnya sesampai diatas, bingunglah kita semua. Akhirnya kami diturunkan lagi. Sesudah semua barang-barang bagasi dikeluarkan kembali, akhirnya menunggu lagilah kami. Sialnya, setelah akan dapat pesawat, burung besi itu rusak dan harus di services terlebih dahulu. Bayangkan, sudah menunggu lama tanpa kepastian akhirnya dapat pesawat (tapi) RUSAK, terang laki-laki yang pergi bersama istrinya itu. Akhirnya dengan takut-takut dan sudah tanpa pilihan lainnya, kami ikut pesawat yang sudah di services itu terbang.
Beberapa menit berselang, gelombang kecewa masih saja terdengar, tapi tiba-tiba, perhatian-perhatian bagi para penumpang yang mengalami keterlambatan silahkan mengambil makan malam anda di counter informasi. Langsung saja semua orang berjajar memperlihatkan tiketnya untuk ditukar dengan sekotak makanan. Aha nasi, lumayan lah. Sorak seseorang sambil membuka kotaknya yang berisi 3 potong nugets, saus cabe dan sejumput nasi. Hening seketika terasa. Suara-suara complain yang tadi ramai tidak lagi terdengar.
Lupa adalah bagian dari sunnatullah manusia. Ia menjadi elemen penting bagi kita setidaknya untuk beberapa hal (menurut saya) ; menjadi sebuah bahan pelajaran, momentum untuk ikhlas dan sabar, ladang pahala dan menjadi sebuah tanda bagi kita semua guna saling melengkapi dan berkolaborasi untuk kebenaran dan kesabaran.
Tapi akhir-akhir ini yang terasa, lupa seringkali terlupakan dengan segera tanpa esensi apa-apa yang melingkupinya sehingga lupa tidak berubah menjadi sebuah pelajaran yang berharga namun malah segera terabaikan. Menjadi bencana berulang yang saya tangkap. Padahal jelas uraian Rasul tentang konsep kesuksesan bagi seorang muslim, barang siapa yang kualitas hidupnya pada hari ini sama dengan kemarin adalah golongan orang yang merugi dan yang lebih jelek bergelar celaka. Dari ini hanya satu pilihan kita harus lebih baik dari kemarin.
Kembali ke cepat lupa, banyak dari kita memang punya kemampuan melupakan sesuatu dengan cepat. Hinggar bingar gelombang reformasi yang membawa negara kita pada catatan sejarahnya sendiri kini mungkin hanya sesekali diingat. Padahal modal besar investasi bangsa dalam suasana yang mengharu biru negeri ini dengan berbagai kerusahan dan dampak sosialnya adalah sebuah benih yang sangat mahal.
Lain lagi dengan bencana alam. Tercatat sejak 2005 efek kerusakan alam yang terjadi karena semangat kemaruk untuk mengekspolitasi telah memaksa kita semua merasakan dampak negatifnya bersama dan dampak terbesarnya makin terasa tentu bagi mereka yang tidak punya asuransi (dhuafa). Berbagai kecerobohan penanganan angkutan umum nampaknya makin memperparah situasi negeri. Ngeri bila tinggal di rumah (karena bencana), tapi takut kalo harus berpergian mencari tempat aman lainnya (karena angkutan bermasalah).
Tercatat berbagai kecelakaan yang terjadi di darat, air dan udara. Mulai dari kecelakaan yang melibatkan bus, kereta, kapal laut yang tenggelam hingga jatuhnya maskapai penerbangan. Menurut Andre Vitchek[*] dalam The International Herald Tribune menyikapi berbagai rentetan kejadian ini dengan menulis sebuah artikel dengan judul ”Indonesia : Natural Disaster or Mass Murder”.
Deretan bencana yang sangat dahsyat itu membunuh ribuan orang, membuat cacat dan trauma lainnya, serta hilangnya harta benda. Memang semua itu menimbulkan gelombang kebersamaan dimana-mana tapi lagi-lagi hiburan kecil yang tergagas melupakan sebuah peran penting tentang arti mempersiapkan semuanya, sedia payung sebelum hujan sehingga essensi pemecahan solusi tidak terjadi.
Yang ditakutkan akhirnya bahan belajar (bencana-musibah) yang Allah SWT berikan ini tidak makin membuat kita mawas diri tapi malah menjadikan kita cuek dan tadi akhirnya cepat lupa. Semoga saya salah. Melupakan sesuatu memang terkadang diperlukan, tapi yang lebih penting tentu belajar dari lupa tadi. Agar kita sukses dan mulia tentunya.
Jam dibandara mulai menunjukkan pukul setegah 8 malam. tiba-tiba terdengar lagi suara, perhatian-perhatian untuk alasan teknis pesawat anda masih di tunda dan silahkan meninggalkan ruang tunggu untuk pindah ke ruang tunggu berikutnya, terima kasih dan selamat malam.
[*] Novelis dan Senior Fellow di Oakland Ins. USA
Wednesday, June 18, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment